DISCOVERY LEARNING

Beberapa kali saya memberikan presentasi mengenai pembelajaran di perguruan tinggi terutama yang menyangkut Pembelajaran Berpusat pada Siswa (Student Centered Learning – SCL) dan inovasi pembelajaran. Saya sering memberikan contoh untuk menjelaskan keunggulan atau keuntungan pendekatan pembelajaran ini (meskipun sering kami bersepakat bahwa pemberian contoh kadang malah dapat mematikan kreativitas karena pada tataran tertentu contoh dianggap sebagai standar). Pembelajaran dengan cara konvensional/klasikal dianggap sudah ketinggalan jaman dan tidak cocok lagi pada era yang penuh dengan tantangan dan cabaran ini; meskipun model tersebut bukannya lantas ditabukan.

Contoh yang seringkali saya gunakan adalah pembelajaran yang saya ampu sendiri, namun salah satu contoh pembelajaran yang sering juga saya sampaikan adalah yang dilakukan oleh Pak Hardaningsih, seorang dosen Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada matakuliah Perkembangbiakan Ikan. Inovasi pembelajaran yang beliau lakukan juga sudah mendapat penghargaan dari UGM dengan memperoleh teaching grant dari program DueLike UGM. Model pembelajaran yang digunakan berbeda dengan model yang biasanya dilakukan secara umum oleh dosen-dosen perguruan tinggi, yang dapat saya deskripsikan sebagai berikut (berdasarkan penuturan beliau pada saat review proposal teaching grant dan melaporkannya; namun saya beri bumbu-bumbu sedikit agar lebih menarik – maklum penulis).

Pada pertemuan minggu pertama, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok memperoleh sebuah kolam di Lab Pembenihan Ikan. Kepada setiap kelompok diberikan seekor induk ikan yang hampir “melahirkan”. Para mahasiswa diminta memasukkan induk ikan tersebut ke kolam masing-masing dan mengamati perkembangannya selama 3 minggu. Tidak ada pertemuan di kelas selama itu. Mereka diminta untuk melaporkan pengamatannya di kelas pada minggu ke 4. Para mahasiswa lantas membagi jadwal untuk melakukan pengamatan di dalam kelompok mereka masing-masing”.

Tiga minggu berlalu dan di kelas, beliau menanyakan: “Oke kelompok I, ceritakan apa yang terjadi pada ikanmu“.
Kelompok I menjawab: “Induk ikan kami berhasil melahirkan pak”.
Bagus. Lantas?“.
“Semua anaknya mati”.
Lho mengapa?“.
“Kami tidak tahu pak”.
Oke. Bagaimana dengan kelompok II?“.
“Alhamdulillah, induk ikan kami juga melahirkan pak”.
Good. Bagaimana keadaannya?“.
“Anak-anaknya mati juga pak”.
Tahu sebabnya?“.
“Kira-kira pak. Berdasarkan pengamatan kami, pada hari kesekian suhu air kolam meningkat secara signifikan. Ini kami curigai sebagai penyebab matinya anak-anak ikan tersebut”.
Bagus. Lalu kelompok III?“.
“Sama Pak, induk ikan kami juga sudah melahirkan, dan suhu air kolam meningkat pada beberapa hari sesudahnya”. Saya curiga beliau sengaja menaikkan suhu air inlet ke kolam percobaan.
“Tetapi ketika beberapa ikan mulai mati, kami kemudian mengganti airnya dengan air yang memiliki suhu seperti semula”.

Demikian seterusnya wawancara yang dilakukan pada sesi kelas tersebut. Setelah semua kelompok menyampaikan laporannya, beliau kemudian menggarisbawahi temuan masing-masing kelompok tadi serta menyampaikan teori mengenai perkembangbiakan anak ikan mulai dari saat dilahirkan. Para mahasiswa dengan cepat dapat menyerap ilmu yang disampaikan oleh beliau karena telah mengalami atau menemuinya sebelumnya.

Dalam dunia pembelajaran, metode yang dilakukan oleh beliau sering disebut Discovery Learning, di mana mahasiswa belajar dengan cara menemukan sesuatu. Tulisan menarik mengenai Discovery Learning disampaikan oleh Donald Clark berikut ini.

Hiero II requested that Archimedes find a method for determining whether a crown was pure gold or alloyed with silver. When he stepped into a bath he realized that a given weight of gold would displace less water than an equal weight of silver (which is less dense than gold); at this point he shouted, “EUREKA” (I have found it!). Discovery learning is based on this “Aha!” method.

Discovery Learning is an inquiry-based learning method. The concept of discovery learning has appeared numerous times throughout history as a part of the educational philosophy of many great philosophers particularly Rousseau, Pestalozzi and Dewey. “There is an intimate and necessary relation between the processes of actual experience and education” wrote Dewey. It also enjoys the support of learning theorists and psychologists Piaget, Bruner, and Papert. It has enjoyed a few positive swings of the educational-trend pendulum in American education, but it has never received overwhelming acceptance.

Discovery learning takes place most notably in problem solving situations where the learner draws on his own experience and prior knowledge to discover the truths that are to be learned. It is a personal, internal, constructivist learning environment. Bruner wrote “Emphasis on discovery in learning has precisely the effect on the learner of leading him to be a constructionist, to organize what he is encountering in a manner not only designed to discover regularity and relatedness, but also to avoid the kind of information drift that fails to keep account of the uses to which information might have to be put.”

{2006 @ tronoh.malaysia}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s